0

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya
meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan
menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.Kemudian Rosulullah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan
wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia
mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya?"

"saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut.
Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."

"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya...."hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah
perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"

Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Kisahnya begini (Andai kata lebih panjang lagi). pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at.
Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu
yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan
nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi".Maksudnya, andaikata jalan ke
masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanyalebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia
melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi
jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya
sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan
meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang
telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya,tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu
lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia
menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ’ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu
tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah
keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu
Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah
berbuat buruk atas dirimu pula."(surat Al Isra’:7)



Dikirim pada 23 Juli 2009 di Kumpulan Nasehat


Kalau kita mengajukan satu pertanyaan kepada setiap wanita yang kita jumpai : “apa impianmu yang paling utama dalam hidup ini?” dia pasti akan menjawab : “Menikah!” Lalu kalau kita menanyai pertanyaan lain :”Apa yang kamu inginkan dari menikah?” tentu dia akan menjawab :”Suami yang membuatku bahagia dan keluarga yang selalu aku sirami dengan air suci cinta dan kasih sayang”.
Inilah keinginan terbesar yang diimpikan setiap wanita. Lalu bagaimana cara mewujudkan impian tersebut? Bagaimana cara membangun keluaraga harmonis yang penuh cinta dan kasih sayang? Kalau kita mencari-cari cara terbaik untuk membangun keluarga idaman, pasti tidak akan menemukannya, kecuali dalam Islam. Mengapa hanya dalam Islam dan tidak yang lain?
Itu karena Islam telah meletakkan wanita pada posisi yang terhormat, posisi yang penuh dengan penjagaan dan pemeliharaan terhadap hak-haknya, posisi yang penuh dengan pengagungan dan penghormatan akan jati dirinya. Kehidupan rumah tangga dalam Islam adalah sesuatu yang suci, sesuci ritual ibadah kepada Allah. Mahligai rumah tangga laksna mihrab yang diterangi pelita kesucian yang tidak boleh dikotori dengan benda-benda najis.
Pasangan suami istri dalam kaca mata Islam tidak berjumpa dalam mahligai rumah tangga secara serampangan, tidak juga karena suatu kebetulan. Masing-masing tidak pernah menyerahkan dirinya kepada yang lain, tetapi keduanya bersua di atas meja cinta dan keserasian. Hati keduanya saling memahami sebelum lisan berbicara. Itulah asas rumah tangga dalam Islam, CINTA dan KASIH SAYANG. Islam memberikan kebebasan kepada wanita untuk menentukan pasangan hidupnya, yaitu kebebasan yang sama besarnya dengan kebebasan yang diberikan kepada laki-laki dalam menentukan teman hidupnya. Orang tua tidak berhak memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan pemuda yang tidak dicintainya, karena pemaksaan hanya akan berakibat penyesalan yang tiada berujung.
Laki-laki juga demikian. Tidak mungkin menikah dengan seorang gadis hanya untuk menyenangkan ibunya atau ayahnya. Dia akan menikahi gadis yang menurutnya bisa menjadi naungan seperti sebuah pohon rindang, yang bisa menghilangkan rasa letih dalam mengarungi perjalanan hidup yang panjang dan melelahkan, dan yang bisa menghilangkan haus dan lapar dengan buahnya yang ranum dan segar.
Islam telah memerintahkan suami untuk menjaga istrinya dengan baik, menyayanginya sepenuh hati seperti sinar rembulan yang menerangi pejalan kaki di tengah malam yang gelap gulita. Cinta yang tulus dari seorang suami akan membuat si istri tabah dan kuat dalam mengarungi kehidupan yang kerap diterjang badai dan ombak. Suami harus membantu istrinya dalam mengurus rumah tangganya, menyuapinya makanan dengan penuh kasih sayang, menghiburnya kala cobaan datang mengeruhkan beningnya kehidupan, memupuk cinta yang ada di hatinya, menjaga lisannya agar tetap berkata lemah lembut penuh kemesraan, pujian, dan sanjungan terhadap istrinya, memuji kecantikannya ketika memakai baju baru, atau menyisir rambutnya yang panajang tergerai. Suami juga harus membisikkan kata-kata cinta penuh kemesraan di telinganya ketika mencium harumnya wewangian yang dipakainya, memuji kepandainnya dalam menghidangkan masakan yang lezat, mengatur perabotan rumah tangga dan menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya.
Suami juga harus pandai berterimakasih atas kemampuan istrinya dalam mengatur perekonomian keluarga, memuji kepandainya dalam menyesuaikan pengeluaran dan pemasukan, memahami kekurangan yang dimiliki istrinya. Jika ada kekeliruan Ia tidak menegurnya dengan kata-kata kasar penuh cacian dan penghinaan, tetapi dengan kata-kata lembut yang menyentuh perasaanya. Suami harus senantiasa menampakan sikap yang menyenangkan istrinya, seakan akan istrinya adalah wanita tercantik dan termanis yang pernah ada, yang setiap hari nampak bertambah cantik dan menarik perhatiannya. Tanpa istrinya seakan hidupnya tiada arti.
Seorang suami juga harus menganjurkan istrinya untuk bersilaturrahim, mengunjungi kerabat dekat dan familinya sebisa mungkin, menganggap keluarga istrinya seperti keluarga sendiri, dan mengagumi apa yang dikagumi istrinya, sehingga hati istrinya merasa tenang, karena dia merasa bahwa perasaannya klop dengan perasaan suaminya. Suami juga harus bisa mengikuti hobbi yang disenangi istrinya sebisa mungkin. Dengan catatan bahwa hobbi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran -ajaran islam. Jika itu terjadi, maka suami harus mampu membatasinya sebijak mungkin.
Suami juga harus berusaha menjadikan kehidupan rumah tangganya seperti sebuah cermin. Bayangan yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang nyata, bukan palsu dan tipuan. Dia tidak boleh menampakkan satu wajah di hadapan istrinya, dan wajah yang lain ketika berada jauh darinya, karena Islam menjadikan orang-orang munafiq sebagai kelompok manusia yang mendapatkan adzab paling pedih pada hari Kiamat.
Perhatian adalah sesuatu yang sangat penting dalam keluarga. Suami harus selalu mencurahkannya untuk istri dan seluruh anggota keluarganya. Perasaan juga tidak kalah pentingnya. Karena itu, suami harus selalu berusaha memperbarui perasaan cintanya kepada istrinya. Hal itu bisa dilakukan dengan cara selalu menampakkan cinta dan kasih sayangnya, merasa takut kehilangannya, dan selalu meyakinkan istrinya bahwa ia adalah dunia dan akhiratnya. Ingat, istri itu selalu pencemburu, bahkan terhadap seorang bidadari sekalipun yang dijanjikan untuk setiap laki-laki di surga kelak.
Suami juga harus hati-hati dalam bersikap di hadapan keluarga istrinya. Dia seharusnya memperlakukan mereka dengan sopan dan santun. Jangan sekali-kali memancing kemarahan mereka. Lebih baik bersikap penuh kehatia-hatian layaknya dia sedang menghadapi binatang buas yang setiap saat bisa menerkamnya.
Dalam urusan belanja pribadinya, suami juga harus mengencangkan ikat pinggangnya. Jangan sampai dia bersikap boros. Usahakan untuk tidak membeli sesuatu kecuali yang sangat mendesak dan benar-benar dibutuhkan, berusaha untuk menambah penghasilan dengan cara-cara yang halal, dan tidak membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, baik bagi dirinya maupun keluarganya, karena menggunakan waktu sebaik mungkin untuk kepentingan keluarga adalah sebuah jihad di Jalan Allah yang akan diberi pahala.
Dalam urusan pendidikan, suami harus bisa bekerjasama dengan istrinya dalam mendidik anak-anak, terutama dalam masa balita dan remaja, karena mereka adalah buah cinta keduanya. Mematangkan mereka dalam bidang keilmuan dan moral adalah tanggungjawab berdua secara bersamaan. Suami harus berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan istri dan anak-anaknya, dan yang penting adalah bagaimana dia bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi mereka dalam segala aspek kehidupan. Ingat , suami adalah pemimpin dalam rumah tangga. Keutuhan dan kehancurannya ditangan suami.
Itulah sekilas tentang ajaran Islam bagi suami dalam rumah tangga, supaya rumah tan gganya menjadi sakinah penuh cinta dan kasih sayang, jauh dari segala pertengkaran dan pergolakan. Lalu bagaimana ajaran Islam untuk para istri dalam rangka menciptakan rumah tangga yang bahagia? Islam mengajarkan untuk mereka kebahagiaan, ketentraman, kedamaian, rasa aman yang tinggi, dan kesejahteran.
Istri harus berusaha menjadi pusat perhatian suaminya, dengan senyum manis senantisa terkembang, pandangannya hangat penuh cinta dan tutur kata lembut penuh kemanjaan. Ia harus selalu berusaha menjadi seorang bidadari di rumahnya. Tubuhnya harum mewangi, wajahnya cerah, perilakunya lembut, dan tutur katanya mendatangkan kedamaian di hati, sehingga suami benar-benar merasa bahwa rumahnya adalah surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan.
Ia bagaikan bunga yang segar dan menyejukkan mata. Hatinya bening sebening mata air pegunungan. Senyumannya manis semanis telaga madu. Wajahnya terang secerah bulan purnama. Jika suaminya sakit, ia menjadi dokter pribadinya yang senantiasa setia menemaninya. Jika dunia gelap di matanya, ia menjadi pelita yang siap menerangi jalannya. Jika ia kehausan, ia menjadi pelepas dahaga yang menyejukkan. Pokoknya, apapun yang dilakukannya selalu menebarkan pesona di mata suaminya. Kelemah lembutannya dalam memperlakukan suaminya sama dengan perlakuannya terhadap teman-teman deketnya, penuh keakraban dan senda gurau.
Istri yang baik tidak pernah merasa tenang jika suami tercintanya berada dalam masalah. Matanya tidak pernah bisa dipejamkan manakala suaminya bersedih dan bermuram durja. Perasaanya yang halus mampu mendeteksi apa yang ada dalam hati suaminya sebelum ia mengatakannya. Ia bisa menebak apa yang berkecamuk dalam benak suaminya sebelum ia menceritakannya.
Istri muslimah yang shalihah hidup dengan suaminya sepenuh hati, sepenuh perasaan, sepenuh jiwa dan raganya. Perasaan dan pikirannya tidak pernah lepas dari pasangannya. Detak jantungnya adalah detak jantung suaminya, selalu berbagi suka maupun duka. Dikala suka ia membaginya untuk suami tercinta. Senyum diwajah suaminya mampu menghilangkan semua duka yang menderanya. Suami baginya adalah benteng yang kokoh, pedang yang tajam, sungai yang mengalirkan air jernih, ladang yang subur, dan pelita yang terang benderang.
Ibadah menjadi aktivitas yang tak pernah terlewatkan. Dia mendekatkan diri kepada Rabbnya dengan melayani suaminya setulus hati. Bukankah islam telah menjadikan ketulusan seorang istri terhadap suaminya setara dengan jihad fi sabilillah dalam hal ganjarannya? Seorang istri bisa menadapatkan pahala ash-shiddiqin (orang-orang jujur dan tulus) jika selalu jujur dalam tindakan dan ucapannya. Dia juga bisa mendapatkan pahala al-abrar (ahli kebajikan) jika mampu memenuhi semua kewajiban terhadap suaminya. Dia juga bisa mendapatkan pahala asy-syuhada jika ia mampu melewati kesulitan dalam mengurus suami dan anak-anaknya.
Jika ia mampu menjaga kehormatan dan melaksanakan kewajibannya dengan baik, do`anya bisa terkabul dan masuk surga dari pintu manapun dia suka Subhanaallah. Dia juga akan senantiasa dijaga oleh para malaikat jika mampu mensucikan fitrah dan akhlaknya dari segala kotoran dan najis ruhaniyah. Dia juga bisa menjadi bidadari suci jika mampu membersihkan hatinya dengan air keimanan dan menjaganya dari bisikan-bisikan hawa nafsu. Dia juga bisa mencatat sejarah dengan melahirkan generasi genius jika mampu mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam.
Untuk mewujudkan semua impian itu tiada yang bisa dilakukannya, kecuali mencontoh para wanita salafush shaleh, menjadikan mereka figur-figur yang diidolakan sepanjang masa. Mereka berbagi suka dan duka dengan suami-suami mereka tanpa keluh kesah. Perjuanagn mereka layak mendapatkan medali penghargaan yang layak selayak yang diterima para syuhada yang gugur di medan perang. Bukankah Allah telah memuji mereka dalam Al Qur`an Al Kariim?
Wanita memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptkan kehidupan yang baik. Jika ia memiliki impian untuk menyulap rumhnya menjadi kebun surga yang indah, pasti ia mampu melakukannya dengan sedikit biaya. Rumah tangga yang baik bukanlah rumah yang selalu dipenuhi dengan perabotan mewah dan modern. Tapi rumah kebahagiaan adalah yang mampu menyatukan banyak hati yang disinari cinta dan kasih sayang, keserasian, kesetian, dan ketulusan untuk hidup berbagi suka dan duka dalam segala suasana. Betapa besar perhatian Islam dalam urusan cinta! Pastilah salah besar jika ada yang menuduh Islam mengajarkan kekerasan dan teror.
(Sumber: Kitab “Madkhol ila qolbi Hawaa`” (Menyelami hati Wanita), karangan : `Abdul Mun`im Qindil).

Dikirim pada 22 Mei 2009 di Kumpulan Nasehat

jazakumullah telah memilih aq untuk mendampingimu kelak,,,
melewati hari2 dengan ketundukan penuh kepada Rabb, Pencipta hidup kita
jazakumullah telah memperkenankan aq untuk berada disampingmu kelak,,
menemani dalam setiap langkah setapak demi setapak mencoba menegakkan nilai Illahi
jazakumullah telah memberi aq kesempatan belajar mempersembahkan yang terbaik untuk Allah semata dengan berbakti kepada mu kelak,,,
jazakumullah telah menerima apa adanya diriku bersama segala kekurangan ku,,,
jazakumullah atas segala apa yang telah diberikan selama menjalani proses kelak dan akan kita jalani bersama utk mengarungi bahtera keluarga,,,
yang dengan itu semakin mendewasakan aq untuk menjalani hidup ini dengan lebih bijak
karena,,,,,,aq tidaklah sebaik ibunda khadijah
aq tidaklah setegar ibunda khansa
aq tidaklah secerdas ibunda aisyah
aq tidaklah secantik ibunda zainab binti jahsyi
aq tidaklah sebijak ummu sulaim
aq hanyalah,,,,
seorang perempuan yang berusaha merajut cinta Allah
dengan segala keterbatasannya,,,
untukmu yang akan belajar kucintai dengan sepenuh hati,,,,,.
bantu aq untuk mengeja makna cinta dengan belajar mencintaimu,,
bantu aq untk memahami ridho dengan mencoba menerima apapun yang kau berikan padaku,,
bantu aq untuk belajar memahami mu dengan baik,,,
bantu aq untuk mengenal mu lebih jauh,,,
bantu aq untuk belajar semua yang bernama kebaikan bersamamu
yang itu aq lakukan demi Allah semata,,
karena,,,,,
kamu adalah qiyadah kehidupan
kamu adalah belahan jiwa
kamu adalah tempat berbagi segala
sementara,,,,,
aq hanyalah seorang muslimah yang berusaha menggenapkan jihadnya
dengan berusaha belajar menjadi "teman sejati" mu,,,,semoga sekiranya kita akan bersama,,,,

Dikirim pada 22 Mei 2009 di Sok Puitis

Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah engkau sudah mempersaksikan di hadapan seluruh makhluk dan malaikat yang menjunjung ‘Arsy yang agung dan malaikat seluruhnya bahwa engkau seorang muslim? Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang agung, yang paling pedih azabnya sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai Dzat yang satu-satunya berhak diberikan seluruh kecintaan, rasa takut dan harap dengan ketundukan dan penyerahan diri yang sempurna?

Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari ini untuk mengerjakan sunnah Rosululloh dengan benar dan ikhlas di atas syariat yang haq, yang tidak dinodai kebatilan syahwat dan syubhat yakni dengan cara mengikuti metode pemahaman dan pengamalan islam yang dilakukan oleh sahabat yang mustaqiim?

Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya sedang terbang melihat sahabatnya yang mencintai agama Allah… menginginkan kebaikan pada dirinya dan orang-orang yang disayanginya…
Sahabatmu menulis risalah ini mengharapkan agar sekiranya risalah ini menjadi batu perbaikan untuk meraih metode pemahaman dan pengamalan islam yang lurus dan meraih jalan kebaikan…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan niat –yang semoga Alloh meluruskannya- yang menginginkan kebaikan bagi engkau wahai sahabatku…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan harapan semoga melapangkan dada, menjernihkan akal dan bisa diterima oleh hati…
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu menjadi bersinar dan tersebar… dan menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-Nya…
Sahabatmu menulis risalah ini dan sangat mengharapkan persatuan kata dalam satu shaf yang sama, bersama-sama menapaki atsar Rosullulloh dan sahabatnya dan meraih beribu-ribu keindahan iman yang dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini dan dia yakin dengan pasti dan tanpa ragu didalamnya ada kesalahan dan kekurangan… karenanya dia memohon ampun kepada Alloh dan memohon maaf kepadamu sahabatku…

Tausiyah Untukku dan Untukmu

Sahabatku, bacalah apa yang Allah firmankan padamu…

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah: 11)

“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)

Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepadamu…

“Barangsiapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya maka Dia memberinya pemahaman dalam masalah dien.” (HR. Bukhori Muslim)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi termasuk pula semut di dalam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)

“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

“Sesungguhnya para malaikat benar-benar mengepakkan sayap-sayapnya pada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

“Barang siapa meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang didatangi kematian pada saat dia sedang mencari ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan islam, maka antara dirinya dan para nabi hanya ada satu derajat di surga.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketahuilah sahabatku… hukum mencari ilmu dien adalah wajib. Rosululloh bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketahuilah sahabatku… diantara semua ilmu ada ilmu yang terpuji dan ada ilmu yang tercela. Dan di antara ilmu yang terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu yang dengannya engkau dapat mengenal Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu yang kau tampakkan maupun yang ada di dalam hatimu. Sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu kedokteran dan farmasi.

Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib untuk dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah wajib untuk dicari oleh seorang muslim, namun apabila sudah dikerjakan oleh sebagian muslim maka gugur kewajiban yang lain.

Ketahuilah sahabatku… jadilah salah seorang diantara dua jenis manusia. Pertama jadilah orang yang sibuk dengan dirimu sendiri dengan hal yang fardhu ‘ain. Kedua setelah selesai dengan kesibukan diri sendiri berilah manfaat pada orang lain dengan hal yang fardhu kifayah. Jangan menjadi orang yang hanya sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati dan amalanmu. Jika engkau belum bisa menata diri sendiri dan hatimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan yang fardhu kifayah sebab orang lain telah banyak yang mengamalkan ilmu ini. Orang yang hendak mencelakakan dirinya sendiri dengan memperbaiki keadaan orang lain adalah orang yang bodoh. Perumpamaan dirinya seperti orang yang di dalam pakaiannya tersusupi kalajengking, lalu dia mengendap-endap untuk menghalau seekor lalat agar tidak hinggap di tubuh orang lain di sampingnya.

Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri, engkau boleh menyibukkan diri dengan ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari ilmu dari Kitabullah dan Sunnah baru engkau mendalami ilmu yang lain. Janganlah engkau menghabiskan umurmu dalam satu jenis ilmu karena ingin mendapatkan predikat spesialisasi. Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak sementara umur manusia sangat terbatas. Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat bagimu yang dengannya engkau bisa meraih ridho Allah.

Sahabatmu ini pernah mendapatkan nasihat, “Sempatkan waktumu menemui majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah, akhlaq dan manhajnya sekalipun harus menempuh jalan yang jauh dan sulit. Sempatkan hatimu untuk menerima belaian dan makanan berupa ilmu. Ingat dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa ilmu?”

Namun sahabatmu ini sibuk sekali dengan urusan dunia dan prestasi, menganggap bahwa dunia sudah cukup untuk menepis musibah dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan datang lalu pergi dan hatinya terasa begitu kering. Musibah datang silih berganti dan membuat hatinya semakin kering hingga sahabatmu ini mendapat nasehat lagi…

Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai saudaraku berdirilah di hadapan tuhanmu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya.”

Sabarlah jika engkau sedang ditimpa musibah, berdoalah kepada Allah agar semua itu bisa mengurangi dan menghapus dosa-dosamu. Kembalilah pada Allah dan carilah solusi dari Rosulullah. Sesungguhnya dalam Islam terdapat solusi bagi seluruh permasalahan. Dan cukupkan dirimu dengan solusi yang Allah dan Rosul-Nya berikan. Karena Allah lah yang Maha Bijaksana, menentukan yang terbaik bagi hambaNya. Dan memang, solusi terbaik atas seluruh urusan adalah islam, agama yang sempurna dan indah dari segala segi. Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.

Sahabatku… bersabarlah untuk terus melangkah menggapai manisnya iman. Kita tidak akan pernah tahu, kapan umur kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu untuk bersegera merajut manfaat dalam ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh dan berat karenanya perlu bekal yang banyak agar kita tidak merugi. Dan kumpulkan bekal itu sekarang karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan sampai besok pagi pun kita tidak tahu apakah kita masih hidup.

Kelak di akherat, Robb kita tidak akan menanyakan: Bagaimana duniamu? Apakah orang tuamu kau bahagiakan dengan duniamu?

Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa masa mudamu kau gunakan? Dan semoga saat itu walidain kita akan bangga dengan kesholehan anaknya, bukan dengan hal-hal yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya menjadi tamparan yang amat menyakitkan bagi mereka di akherat. Manakah yang engkau ridho atasnya sahabatku?

Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya yang dibisikkan syaithon untuk membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram dan menyamarkan hal-hal yang jelas.

Sahabatku… tentulah kita semua tahu bahwa terbukanya pintu taubat adalah hingga ditariknya nyawa sampai tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu taubat untuk selamanya dan tak berguna lagi penyesalan sesudah itu. Tapi sahabatku, tak seorang pun tahu kapan kematian menjemput, kapan pintu taubat ditutup, apakah tahun depan, bulan depan, malam ini atau setelah beranjak dari tempat ini?? Tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya hingga begitu banyak manusia meremehkan bersegera dalam bertaubat dan dalam keadaan merasa aman dengan ilmu, amal, dan agama yang ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa yang merasa aman dengan agamanya maka Allah mencabut agamanya pada saat itu juga.

Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga dalam kesendirian kita masing-masing kita tetap bersemangat berpegang teguh terhadap al-haq, tetap istiqomah, menjunjung nilai-nilai sunnah dalam setiap tingkah, langkah, menit dan detik kita. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya dunia dan segala perhiasannya. Semoga kita diselamatkan dari tipu daya dan bisikan syaithon yang melalaikan kita dari mengingat agungnya akherat.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui maknanya. Lalu kapankah kita mengamalkan?

Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada yang melarang kita untuk mempelajarinya, bahkan sangat dianjurkan demi kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita belajar untuk birul waliddain, tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah mampu mempertimbangkan manakah yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu kifayah dan butuh ilmu yang fardhu ‘ain sebagai landasannya. Sahabatku, engkau sudah dewasa dan engkaulah yang berhak menentukan jalan yang akan engkau tempuh. Sahabatmu ini sekedar menyampaikan ilmu yang sudah sampai padanya. Karena sahabatmu ini sangat menyayangimu karena Allah dan berharap kelak bertemu denganmu di surgaNya dan masih bersamamu ketika menuai ridho-Nya dan memandang wajah-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh



disalin dari Muslimah.or.id

Dikirim pada 12 Mei 2009 di Kumpulan Nasehat

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.

Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa". (Ummu Asyrof dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Diambil dan diketik ulang oleh Redaksi dari: Majalah Elfata edisi 08 volume 07 tahun 2007
disalin dari Jilbab.Online

Dikirim pada 12 Mei 2009 di Kumpulan Nasehat

Teruntukmu,,,,,,
Aq bersama semua baktiku yang tertunda,,,
Bersama sepotong cinta yang tak akan sempurna,,,

Untuk calon suamiku ,,,,
Izinkan bakti dan taatku melebur bersama senyummu,,,
Iiznkan cinta dan kehormatanku terpatri kuat untuk menjaga kehormatanmu,,,

Wahai calon suamiku ,,,,
Ketahuilah,,,
Bahwa aku wanita asing bagimu,,,
Nanti terangkanlah apa2 yang tidak kumengerti darimu,,,
Terangkanlah apa2 yang tidak tersukai darimu,,,
Agar istri solehah menjadi mahkota mendampingimu,,,
Untuk calon suamiku yang masih sibuk dalam kelelahanmu,,,
Ketahuilah bahwa aq selalu menunggumu,,,
Menunggu menjadi kendaraan yang nyaman buatmu,,,
Menjadi rumah yang lapang untukmu,,,
Menjadi penunjuk jalan yang lurus untukmu,,,
Menjadi penyejuk hatimu,,,

Dan Wahai engkau calon pengobat cintaku,,,
Bila nanti Allah rizkikan engkau untukku,,,
Maka semoga aku juga menjadi rizki mulia untukmu,,,
Bersama menyempurnakan hati dalam MahabahNya,,,
Menyemarakan dakwah dengan para Jundi2 Allah,,,
Aku bersama kesederhanaan yang terbalut takwamu,,,
Bersama menggapai perjuangan ini,,,
Yang karenamu,,,Allah semakin sayang padaku,,,

Dikirim pada 05 Mei 2009 di Sok Puitis

Sesungguhnya ada seseorang dari umat sebelum kalian didatangi Malaikat untuk dicabut nyawanya. Maka Malaikat berkata,"Apakah engkau pernah melakukan kebaikan?" Orang itu berkata: "Aku tidak tahu." Malaikat berkata: "Berpikirlah engkau" Kemudian ia berkata: "Aku tidak mengetahui sedikitpun perbuatan baik yang pernah aku lakukan. Hanya saja aku dulu pernah bertransaksi dengan seseorang di dunia, kemudian aku menangguhkan (pembayaran hutang) dari orang yang mempunyai kelapangan dan membebaskan dari orang yang kesulitan." Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Akhirnya Allah memasukkannya ke surga."

Dikirim pada 05 Mei 2009 di Kumpulan Nasehat

Istriku tercinta, aq tdk mnulis surat ni kecuali karna aq mencintaimu.Engkau telah rela menjadikanku sebagai suami N aq telah menghibahkan hidupku utk mu.Aq mengatakan kpda diriku,inilah seorang ibu N istri,inilah kasih sayang N ketenangan,ini;ah hembusan angin Surga yg da d rumahku,maka aq mengajakmu N qta sama2 menaiki perahu yg menuju ke pelabuhan bahagia d sisi Rabb Yang Maha Pengasih.

Tetapi, tiba2 aq mendapatkan badai d jln yg qta lalui N angin yg berhembus.Jika qta b’2 tdk b’hati2,maka qta akan kehilangan kendali perahu N kehilangan arah. Aq mengatakan kpda diriku sendiri ’’tidak! Aq tdk akan meninggalkan perahu tenggelam,maka aq ambil pena N kertas, N aq tulis surat teguran. Teguran dr seorang kekasih kpda kekasihnya’’.

Apakah engkau ingat wahai istriku tercinta??? betapa engkau d awal pernikahan qta merupakan simbol feminim seorang perempuan. kemudian aq tdk tahu,mengapa engkau berubah m’jd tdk enak d lihat?? engkau lupa bahwa salah 1 sifat perempuan yg shalihah adalah jika ia d lihat suaminya,maka suaminya akan merasakan senang.

apakah engkau ingat wahai kekasihku?? engkau sering menyebut2 kpdaku mengenai apa yg engkau lakukan dlm mengerjakan pekerjaan rumah,perlkuanmu dlm menjamu tamu2ku N mlaksanakan kebutuhanku, sehingga engkau lupa akan firmanNya ’’ Hai org2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dgn menyebut2nya N menyakiti perasaan si penerima’’ ( QS.2/164)

Apakah engkau ingat kekasihku?? betapa qta berjanji ktika qta menikah utk saling membantu 1 sm lain dlm hal ketaatan N dakwah kepada Allah. qta sdh berkomitmen bahwa yg menjadi keinginan qta adalah umat islam N mendidik anak2 qta berarti membangun agama islam. ttp saat ini keinginan yg menyibukan qta adalah berlomba2 utk mengejar model terbaru,gaya rambut, mengecet rambut N mendapatkan uang dr mn saja.

Apakah engkau ingat,wahai kekasih??? betapa engkau sering marah N mengeluh terhadap rejeki yg d berikan Allah kpada qta. Apakah aq mencari rejeki utk memenuhi keinginanmu dr jalan yg d haramkan?? Engkau lupa pd seorang perempuan berkata kpda suaminya ’’ Bertakwalah kpda Allah dlm menjalani hubungan qta,sesungguhnyaqta bisa sabar atas lapar N qta tdk bs sabar atas api neraka’’.

Apakah engkau ingat ?? berapa kali aq terjaga dr tidur tengah mlm N melihatmu melihat tayangan film N musik d televisi?? tidakkah lbh baik engkau berdzikir kpda Allah N shalat malam 2 rakaat d saat manusia sdg tidur d gelapnya malam?? atau tidakkah sebaiknya engkau tdr sore hari sehingga tdk kehilangan shalat subuh???

Apakah engkau ingat??? ktika engkau keluar dr rumahku utk mengunjungi keluarga mu tanpa seizinku N kyika engkau mengizinkan teman perempuanmu masuk k rumahku, pdahal aq melarangmu utk memasukkan temanmu k rumah qta,apakah engkau lupa bahni adalah hakku???
Apakah engkauingat bahwa ktika keluarga ku mengunjungiku,bgitu jg dgn temen2ku yg bertmu k rmh, engkau memalingkan wajah N kakimu terasa berat serta muka masam.
memang engkau tlh menyediakan makanan bwt mereka,tetapi smua cita rasa itu hilang ktika engkau menunjukkan muka masam.apakah engkau mengetahui pepatah mengatakan ’’ temuilah aq,, N jgn engkau berikan aq makan’’.

Kekasihku,,,,,,,,,,,,,,
aq tetap mengatakan dr lubuk hatiku bahwa aq sungguh mencintaimu.
aq berharap qta dapat meraih ridha Dzat Yang Maha Penyayang bersama2.
mungkin aq pernah berbuat kesalahan dlm memberikan hak mu N mungkin aq tidak menyadari keteledoranku dlm menjalankan sebagian kewajiban N menjagamu,,
apa yg aq tulis ini merupakan ajakan agar engkau menulis kepadaku apa yg ada d benakmu. tujuan qta b’2 satu.qta telah menaiki perahu yg sama N tujuan perahu ersebut satu. Tujuannya adalah mendampingi d dunia N akhirat dalam Surga Adn(InsyaAllah). jangan biarkan gelombang badai membawa qta k jalan yg qta tdk ketahui.

Dikirim pada 23 April 2009 di Kumpulan Nasehat
23 Apr


Terlalu tua dirimu mengurung diri dalam kesepian,
menyendiri dari setiap keramaian,
dan kembali terdiam meratapi lika liku jalan kehidupan,

bukan karena tidak ada yang ingin memperhatikan,
namun tertunda hanya karena keragu-raguan,
dan terlewatkan karena setiap diri menyakini sebuah pilihan,

jangan salahkan mereka yg meninggalkan,
karena itulah jalan yg membahagiakan,
agar kesedihan berubah wujud menjadi sebuah senyuman,

cobalah tegar wahai teman,
bangkit berdiri melihat kenyataan,
semua ini bukan kesalahan garis kehidupan,

cobalah melangkah wahai teman,
melihat indahnya sisi nyata kehidupan,
yang terbingkai oleh cinta dan kebahagiaan.,

cobalah tersenyum wahai teman,
tinggalkan semua keraguan yang tersimpan,
dan yakinilah bahwa setiap diri masih memiliki sebuah harapan...

[untukmu wahai teman, yang bersenyum dibalik kegelisahan] dr catatan seorang teman

Dikirim pada 23 April 2009 di Sok Puitis


Cantiknya wanita karena
Kejernihan wajah...
Manisnya wanita karena
senyumnya yang indah
Hebatnya wanita karena
Keimanan dan ketaqwaan
yang teguh....
Hiasilah peribadimu
dengan akhlak terpuji ...
Nilai diri seorang Muslimah Sejati...

Wahai wanita yang paling bahagia
dengan agama dan akhlaknya..
Tanpa Mutiara ,Tanpa kalung dan Tanpa Emas
Tetapi dengan tasbih
Yang bagaikan pembawa Kabar Gembira
Bagaikan tetes Hujan,bagaikan fajar
bagaikan pancaran cahaya,bagaikan awan
Di dalam Sujud,dalam do�a
dalam kedekatan dengan Rabbnya
Dengan renungan di antara cahaya
Kitab-kitabNYA,,,Dalam kilatan cahaya dari gua Hira
Dari Utusan Rabbmu pada bangsa Arab dan Romawi
Maka engkaulah Wanita yang paling Bahagia di dunia
Dalam hatimu yang Bersih
yang engkau suburkan dengan dekat kepada Allah

Pancarkan Jiwamu Niscaya alam akan memujimu
Pandanglah hidup ini dengan pandangan cinta dan optimis
Hidup adalah anugerah dari Allah buat manusia maka terima anugerah itu dengan gembira.manfaatkan anugerah ini dengansebaik-baiknya.
Songsonglah waktu pagi dengan pancaran senyum manismu.Hadapilah malam hari dengan tenang dan tentram.
Hadapilah siang hari dengan sinar cahayanya
Minumlah air putih,dengan pujian
Hiruplah segarnya udara dengan penuh gembira
Ciumlah harumnya bunga yang semerbak wangi..
Renungkan semua pemberian Allah di alam semesta ini, di karangan bunga,di pancaran mawar,di keharuman taman-taman bunga yang mewangi ,di panasnya terik matahari ,dan di terangnya cahaya rembulan.
Pergunakan semua Nikmat yang ada di semesta alam ini untuk ketaatan,,
Setelah itu Pujilah atas pemberian dan keutamaan-NYA.Sekalilagi jauhilah mimpi buruk yang di penuhi kesedihan dengan melihat betapa banyak Nikmat-NYa.sehingga pada akhirnya engkau akan menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Ketahuilah bahwa ALLAH Maha Memberi Rejeki dan tidaklah sesuatu yang berada di alam ini diciptakan kecuali hanya untuk membantu manusia dalam ketaatan Pada-NYa.

Dikirim pada 17 April 2009 di Sok Puitis
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Hamba Allah yg mempunyai banyak kekurangan N sedikit sx kelebihan,,,,N b`usaha utk memperbaiki diri. More About me

Page
Tag
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 238.965 kali


connect with ABATASA